Sejarah : Taman Balekambang Surakarta




 Taman Balekambang Tanda Cinta KGPAA Mangkunegoro VII


Taman Balekambang Surakarta bukan sekadar ruang hijau di tengah kota, tetapi juga bagian dari sejarah kota Solo.
Taman Balekambang kini menjadi tempat favorit bagi warga dan wisatawan yang ingin menikmati suasana alam yang asri di tengah kepadatan dan riuhnya kota.
Taman Balekambang menjadi pilihan yang layak untuk udara segar serta suasana yang menenangkan karena dikelilingi pepohonan rindang dan taman bunga yang tertata rapi.
Setiap pagi dan sore, taman ini ramai oleh pengunjung yang datang untuk berolahraga, bersantai, atau sekadar menikmati keindahan lanskapnya.
Berbagai fasilitas tersedia, mulai dari area bermain anak, jalur pejalan kaki, hingga tempat duduk yang nyaman di bawah rindangnya pepohonan. Tak hanya menjadi tempat rekreasi, Taman Balekambang juga memiliki nilai sejarah dan budaya.
Taman Balekambang memiliki luas sekitar 9,8 hektare, dengan bagian barat seluas 5,4 hektare yang telah selesai direvitalisasi. Taman Balekambang dapat diakses tanpa biaya masuk, dengan pengunjung hanya perlu membayar tiket parkir.(Kondisi smpai tgl 1 September kemarin ketika Jejak Sejarah DAM jelajah di taman eksotis ini)
* Sejarah Taman Balekambang
Taman Balekambang di Solo dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro VII pada 26 Oktober 1921 sebagai wujud kasih sayang kepada kedua putrinya, GRAy Partini dan GRAy Partinah.
Awalnya, taman ini tidak bernama Taman Balekambang, melainkan terdiri dari dua bagian yang masing-masing memiliki nama sendiri, yaitu Partini Tuin (Taman Air Partini) dan Partinah Bosch (Hutan Partinah).
Partini Tuin merupakan salah satu bagian utama di Taman Balekambang Surakarta yang memiliki kolam besar serta kolam renang.
Salah satu balai yang ada di sini adalah Bale Apung, yang dulunya digunakan sebagai tempat bersantai keluarga kerajaan. Karena letaknya yang berada di atas air, balai ini tampak mengapung, sehingga menjadi inspirasi nama "Balekambang."
Balai lainnya adalah Bale Tirtayasa, yang pada masa lalu berfungsi sebagai tempat berganti pakaian bagi anggota kerajaan sebelum berenang. Di bagian depannya, terdapat sebuah kolam renang yang kini sudah tidak lagi difungsikan.
Sementara itu Partinah Bosch merupakan area taman yang menyimpan berbagai jenis tanaman langka, seperti beringin putih, beringin sungsang, dan kenari.
Awalnya, Taman Balekambang hanya bisa diakses atau diperuntukkan bagi anggota keluarga kerajaan saja, namun, sejak pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Aryo Adipati VIII, taman ini dibuka untuk umum.
Selanjutnya pada tahun 1950, pengelolaan taman diserahkan kepada Pemerintah Kota Surakarta. Perubahan ini menandai dibukanya
taman untuk umum, menjadikannya ruang terbuka hijau bagi masyarakat Solo.
Setelah sempat mengalami masa terbengkalai, revitalisasi dilakukan oleh Pemerintah Kota Solo pada tahun 2007.
Sejak saat itu, Taman Balekambang mengalami berbagai revitalisasi dan berkembang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kota Solo, dan Taman Balekambang menjadi simbol besarnya kecintaan seorang ayah kepada putrinya. ***(Daniel-berbagai sumber)




Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=fNw1pDxXfOo




0 Komentar